Apa itu osteoporosis?


Osteoporosis atau keropos tulang merupakan penyakit yang ditandai dengan penurunan kekuatan tulang sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan rentan mengalami patah tulang atau fraktur. Kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama pada kelompok lanjut usia dan perempuan setelah menopause. Pencegahan dan deteksi dini penting dilakukan untuk mengurangi risiko patah tulang serta mempertahankan kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.


Berdasarkan penyebabnya, osteoporosis dibedakan menjadi osteoporosis primer dan sekunder. Osteoporosis primer terutama berkaitan dengan proses penuaan dan perubahan hormonal, khususnya setelah menopause. Sementara itu, osteoporosis sekunder terjadi akibat penyakit tertentu atau penggunaan obat-obatan yang dapat memengaruhi metabolisme dan kekuatan tulang.


Beberapa obat yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis, terutama pada penggunaan tertentu atau jangka panjang, antara lain kortikosteroid dan hormon tiroid. Obat lain, seperti antikonvulsan, warfarin, dan metotreksat, juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan tulang.
Selain penggunaan obat, beberapa penyakit juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis, seperti penyakit ginjal kronik, gangguan saluran cerna dan hati, hipertiroidisme, hiperparatiroidisme primer, sindrom cushing, serta artritis reumatoid.
Siapa yang berisiko mengalami osteoporosis?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis meliputi:

  • Usia lanjut dan perempuan setelah menopause.
  • Riwayat keluarga dengan osteoporosis atau patah tulang akibat kerapuhan tulang.
  • Indeks massa tubuh (IMT) yang rendah.
  • Kurangnya aktivitas fisik.
  • Asupan kalsium yang tidak mencukupi dan kekurangan vitamin D.
  • Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.
  • Penyakit tertentu atau penggunaan obat-obatan yang memengaruhi kesehatan tulang.

Memiliki satu atau lebih faktor risiko tidak selalu berarti seseorang mengalami osteoporosis. Namun, kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk melakukan penilaian lebih lanjut guna menentukan kebutuhan pemeriksaan dan langkah pencegahan yang sesuai.

Tanda dan gejala osteoporosis
Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Penurunan kekuatan tulang dapat berlangsung secara bertahap tanpa disadari dan baru diketahui setelah terjadi patah tulang, bahkan akibat benturan ringan atau aktivitas sehari-hari.


Risiko patah tulang dipengaruhi oleh kekuatan tulang dan kemungkinan terjadinya jatuh. Ketika tulang sudah rapuh, jatuh yang tampaknya ringan sekalipun dapat menyebabkan cedera serius.


Tanda yang dapat ditemukan, terutama apabila telah terjadi patah tulang atau perubahan struktur tulang, antara lain:

  • Nyeri pada area yang mengalami patah tulang.
  • Penurunan tinggi badan secara bertahap.
  • Perubahan postur tubuh, seperti punggung yang semakin membungkuk atau kifosis.
  • Penurunan kemampuan bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Oleh karena itu, osteoporosis tidak sebaiknya diabaikan hanya karena belum menimbulkan keluhan. Pengenalan faktor risiko menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah komplikasi.


Bagaimana osteoporosis dideteksi  dan ditangani?
Penilaian osteoporosis dilakukan melalui wawancara medis, identifikasi faktor risiko, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Pemeriksaan kepadatan mineral tulang menggunakan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis. Pemeriksaan tambahan juga dapat diperlukan untuk mencari kemungkinan penyebab osteoporosis sekunder.


Penapisan atau skrining dapat dilakukan untuk mengidentifikasi individu yang berisiko sebelum terjadi patah tulang. Dokter dapat menggunakan anamnesis, evaluasi faktor risiko, dan instrumen penilaian risiko, seperti One-Minute Osteoporosis Risk Test, sesuai kebutuhan klinis. Penilaian risiko patah tulang penting dipertimbangkan, terutama pada perempuan setelah menopause, laki-laki berusia 50 tahun ke atas, serta individu dengan faktor risiko lainnya.


Pada pasien yang telah didiagnosis mengalami osteoporosis, penanganan bertujuan mengurangi risiko patah tulang pertama maupun berulang, mempertahankan fungsi fisik, dan menjaga kemandirian. Dokter dapat memberikan obat osteoporosis berdasarkan kondisi klinis dan tingkat risiko patah tulang. Keluhan yang menyertai, termasuk nyeri akibat patah tulang, juga perlu ditangani sesuai penyebabnya.


Pencegahan jatuh untuk mengurangi risiko patah tulang
Selain menjaga kekuatan tulang, mencegah jatuh merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko patah tulang, terutama pada kelompok lanjut usia.

Beberapa faktor dari individu yang dapat meningkatkan risiko jatuh meliputi:

  • Riwayat jatuh sebelumnya.
  • Kelemahan otot, gangguan keseimbangan, dan kesulitan berjalan.
  • Gangguan penglihatan atau pendengaran.
  • Malnutrisi dan penurunan kemampuan fisik.
  • Penyakit yang memengaruhi gerakan atau fungsi kognitif, seperti penyakit parkinson, demensia, dan kondisi pasca stroke.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu serta penggunaan beberapa jenis obat secara bersamaan.


Lingkungan tempat tinggal juga perlu diperhatikan. Tangga yang tidak aman, lantai licin, karpet yang mudah bergeser, pencahayaan yang kurang, serta permukaan jalan yang tidak rata dapat meningkatkan risiko jatuh.


Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan di rumah antara lain memasang pegangan di kamar mandi, memastikan pencahayaan cukup, menyingkirkan kabel atau benda yang menghalangi jalan, serta menggunakan alas kaki yang tidak licin. Apabila diperlukan, penggunaan alat bantu jalan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan pasien.


Langkah sederhana mencegah osteoporosis sejak dini
Pencegahan osteoporosis sebaiknya dimulai sejak masa kanak-kanak dan dilanjutkan hingga usia lanjut. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi:

  • Memenuhi kebutuhan nutrisi. Konsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup untuk membantu menjaga kesehatan tulang.
  • Melakukan aktivitas fisik secara teratur. Latihan menahan beban, latihan kekuatan otot, dan latihan keseimbangan dapat membantu mempertahankan kekuatan tulang serta mengurangi risiko jatuh. Jenis latihan perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan.
  • Mempertahankan berat badan yang sehat. Berat badan yang terlalu rendah dapat menjadi salah satu faktor risiko osteoporosis.
  • Menghindari kebiasaan yang merugikan kesehatan tulang. Berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tulang.
  • Melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan. Individu dengan faktor risiko osteoporosis perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan kepadatan tulang atau penilaian risiko patah tulang.


Kapan perlu berkonsultasi dengan dokter?
Konsultasi dengan dokter perlu dipertimbangkan apabila terdapat faktor risiko osteoporosis, penurunan tinggi badan yang tidak dapat dijelaskan, perubahan postur tubuh, atau riwayat patah tulang akibat benturan ringan. Penilaian lebih lanjut membantu menentukan kebutuhan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.


Osteoporosis memang sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Namun, risiko komplikasinya dapat dikurangi melalui pengenalan faktor risiko, pola hidup sehat, pencegahan jatuh, serta deteksi dan penanganan yang sesuai. Dengan menjaga kesehatan tulang sejak dini, kita dapat membantu mempertahankan mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup hingga usia lanjut.


Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Osteoporosis. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2023.