Diposting Pada Tgl : 31/07/2026
Hepatitis, Tantangan Kesehatan di Indonesia dan Dunia
Penyakit hepatitis merupakan masalah kesehatan yang besar, baik di tingkat global maupun di Indonesia. Secara dunia, diperkirakan ada sekitar 296 juta orang yang hidup dengan hepatitis B kronis dan 58 juta orang terinfeksi hepatitis C kronis. Penyakit ini sangat berbahaya karena menyebabkan sekitar 1,1 juta kematian setiap tahunnya, di mana sebagian besar disebabkan oleh kerusakan hati yang parah. Di Indonesia sendiri, beban penyakit ini sangat terasa; data menunjukkan sekitar 7,1% penduduk (setara 18 juta orang) mengidap hepatitis B, dan sekitar 1% (setara 2,5 juta orang) terinfeksi hepatitis C. Diperkirakan setiap harinya ada sekitar 140 orang di Indonesia yang meninggal akibat hepatitis B dan 16 orang akibat hepatitis C.
Hepatitis adalah kondisi peradangan pada organ hati yang umumnya disebabkan oleh serangan virus. Berdasarkan lamanya penyakit, hepatitis terbagi menjadi dua: akut (terjadi mendadak dan bisa sembuh sendiri) atau kronis (infeksi menetap lebih dari enam bulan dan bisa merusak hati secara perlahan). Di Indonesia, jenis yang paling sering menimbulkan masalah jangka panjang adalah Hepatitis B dan Hepatitis C. Hepatitis B disebabkan oleh virus DNA, sedangkan Hepatitis C disebabkan oleh virus RNA yang memiliki banyak kemiripan cara penularan namun memerlukan penanganan yang berbeda.
Gejala hepatitis sering kali tidak muncul di awal infeksi, sehingga banyak orang tidak sadar mereka sakit. Namun, jika muncul gejala, penderita biasanya merasa lemas, mual, nyeri di perut kanan atas, demam, hingga warna kuning pada mata dan kulit. Cara penularannya berbeda antar jenis: Hepatitis B paling sering menular dari ibu ke anak selama proses melahirkan, atau melalui kontak darah dan cairan tubuh (seperti jarum suntik tidak steril dan hubungan seksual berisiko). Sementara itu, Hepatitis C sebagian besar menular melalui kontak darah langsung, seperti penggunaan jarum suntik bersama, praktik medis yang tidak aman, atau alat kesehatan yang tidak steril.
Kabar baiknya, hepatitis bisa dicegah dan diobati. Untuk hepatitis B, pencegahan utama adalah melalui vaksinasi hepatitis B yang diberikan segera setelah bayi lahir (kurang dari 24 jam). Ibu hamil yang mengidap hepatitis B juga bisa diberikan obat antivirus di usia kehamilan 28 minggu untuk mencegah penularan ke bayinya. Jika sudah kronis, hepatitis B ditangani dengan obat minum rutin untuk menekan jumlah virus agar tidak merusak hati. Sedangkan untuk Hepatitis C, saat ini sudah ada obatnya yang berupa tablet minum selama 12-24 minggu dengan tingkat kesembuhan yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 95%. Kunci utama penanganan adalah melakukan deteksi dini agar pengobatan bisa diberikan sebelum hati mengalami kerusakan permanen.
