ARTIKEL

Oleh : dr . Muhammad Nurpazrul
Jabatan/Bagian : Dokter Umum

Diposting Pada Tgl : 09/01/2021

Tak kenal maka tak kebal!!


Vaksinasi adalah cara aman melatih tubuh untuk mengenal, melawan, dan juga mengingat sehingga dapat kebal dari virus atau bakteri penyakit tertentu.

Vaksin aman dan efektif karena sudah diawasi dengan ketat dari tahapan pra-klinis dan klinis. Dengan divaksinasi kita dapat melindungi diri dan juga orang-orang di sekitar kita. Pandemi dapat berakhir jika rantai penularan dapat diputus dengan vaksinasi dan disiplin protokol kesehatan. Vaksin merupakan salah satu pencegahan paling penting terhadap penyakit-penyakit yang mudah sekali menular. Sudah banyak sekali berbagai macam vaksin diproduksi untuk mencegah Anda terkena penyakit. Namun tahukah Anda bagaimana asal mula vaksin itu ditemukan? 

Era sebelum vaksin

Istilah vaksin baru dikenal pada tahun 1796 ketika vaksin cacar pertama berhasil diketemukan. Sebelum itu, usaha untuk mencegah terjadinya infeksi oleh sebuah penyakit telah dilakukan sejak jaman Yunani kuno, 429 SM. Pada saat itu, seorang ahli sejarah Yunani menemukan bahwa orang-orang yang berhasil sembuh dari cacar tidak pernah terinfeksi cacar untuk yang keduakalinya. Pada tahun 900, orang-orang Cina menemukan bentuk kuno dari vaksinasi, yaitu variolasi. Variolasi adalah proses memindahkan virus cacar dari luka penderita cacar ke orang-orang yang sehat, dengan tujuan untuk mencegah infeksi cacar. Variolasi mulai menyebar ke tanah Eropa pada abad ke-18 ketika terjadi wabah cacar. Dengan variolasi, tingkat kematian akibat cacar dapat dikurangi saat itu.

Edward Jenner, cacar sapi, dan variola

Vaksin yang pertama kali dibuat adalah untuk variola atau cacar yang dibuat untuk mencegah penyakit variola yang sangat mematikan. Vaksin tersebut dibuat oleh seorang dokter bernama Edward Jenner di Berkeley suatu daerah pedesaan di Inggris pada tahun 1796. Dengan mengambil nanah luka  cacar sapi dari tangan seorang pemerah susu, dr. Jenner menularkan seorang anak berusia 8 tahun, James Phipps, dengan virus cacar sapi. Enam minggu kemudian dr. Jenner melakukan variolasi (proses memindahkan nanah dari luka aktif seseorang yang menderita variola, ke lengan orang lain yang sehat dengan menggunakan sebuah jarum) terhadap 2 titik di lengan Phipps dengan virus variola. Hasilnya, ternyata anak laki-laki tersebut tidak terinfeksi variola dan tetap sehat meskipun prosedur variolasi diulang untuk keduakalinya.

Efektifkah vaksin sinovac yang datang ke Indonesia?

vaksin sinovac atau CoronaVac merupakan vaksin covid-19 yang dibuat oleh perusahaan bioteknologi di Tiongkok dan sedang dilakukan uji klinis di Bandung oleh biofarma dan unpad. Vaksin sedang dalam uji klinis fase ketiga sehingga belum ada hasil analisis final dan belum mendapatkan izin penggunaan darurat atau (EUA) dari BPOM.Vaksin sinovac dibuat dari virus covid-19 yang dinon-aktifkan. sinovac merupakan salah satu kandidat vaksin yang akan digunakan di Indonesia dari beberapa produsen vaksin yang ada saat ini. Bagaimana perkembangan vaksin itu sendiri? sejauh ini tahapan uji klinik fase 1 dan fase 2 sudah dilakukan,  uji klinik fase 3 sedang dalam proses pengerjaan. Sejauh ini uji klinis vaksin fase 3 di mana terdapat 52 kandidat vaksin, lebih dari 30.000 partisipan  dan didominasi oleh vaksin IM (intramuskular) termasuk vaksin sinobac. Sebanyak 743 partisipan dilakukan uji klinis pada fase 1 dan 2, dimana pada fase 1 sebanyak 143 orang sejak 16 - 25 April 2020 sedangkan fase 2 itu dilakukan pada sebanyak 600 orang sejak 2 sampai 5 Mei 2020. Dikategorikan menjadi 3 yaitu pemberian dosis 3 mikrogram 6 mikrogram dan plasebo yang diberikan pada hari ke-0, hari ke-14 hari, hari ke-0 dan hari ke-28 saat ini uji klinis vaksin dibatasi pada usia 18 sampai 59 tahun karena kelompok usia yang paling banyak terpapar covid-19. Pengembangan vaksin untuk anak-anak masih direncanakan vaksin untuk usia di atas 59 tahun memerlukan waktu uji klinis tambahan. Selama uji klinis berlangsung 97% sampai 100% memiliki antibodi sebagai respon imun terhadap covid-19 namun jumlah antibodi lebih rendah daripada orang yang sembuh dari covid 19.Tidak ada efek samping berat dan serius yang muncul hingga 28 hari setelah vaksin diberikan. Pada fase ini sinovac masih terbukti aman, namun belum ada hasil analisis final uji klinik fase 3 saat ini. Angka 97% tersebut merupakan serokonversi bukan efikasi ataupun efektivitas, serokonversi adalah serologi (uji coba antibodi) digunakan untuk menentukan positif antibodi atau muncul dan terdeteksi antibodi pada seseorang yang diberikan vaksin. Jadi untuk saat ini belum ada hasil final dari penelitian yang dilakukan terhadap vaksin namun pemerintah sudah melakukan distribusi vaksin sinovac ke beberapa provinsi yang selanjutnya akan dilakukan pemberian vaksin tahap pertama. Namun selama vaksin yang aman dan efektif belum mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari BPOM dan uji klinis belum selesai di Indonesia maupun luar negeri vaksin tersebut belum dapat digunakan. Upaya perlindungan yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penularan covid-19 saat ini adalah disiplin 3M yaitu memakai masker dengan benar, menjaga jarak dan jauhi kerumunan serta mencuci tangan pakai air mengalir dan sabun, karena vaksin itu sendiri bukan merupakan obat melainkan sebagai salah satu sarana atau bentuk ikhtiar kita untuk mencegah kita dari penularan virus Covid-19.

 

Silahkan Berkomentar dengan baik dan sopan

Apakah Anda Mempunyai Pertanyaan?

Untuk Informasi lebih lengkap, Anda dapat menghubungi customer service kami 0266-241461/241463

Alamat Jl.Jendral Sudirman No.3 kota Sukabumi 43123
Telp. (0266)22663,241461,241463
Fax. (0266)213433, 223742
Email. rsi_assyifa@yahoo.co.id - pemasaranassyifa@yahoo.com