ARTIKEL

Oleh : dr. Rahma Andhina
Jabatan/Bagian : Kepala Bagian Pelayanan Medis

Diposting Pada Tgl : 27/02/2026

POLA MAKAN SEIMBANG SAAT SAHUR DAN BUKA PUASA


Bulan Ramadan adalah momen istimewa bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah sekaligus melatih pengendalian diri. Namun, perubahan pola makan dan waktu tidur sering kali membuat tubuh terasa lemas, sulit berkonsentrasi, bahkan mengalami gangguan pencernaan. Oleh karena itu, menerapkan pola makan seimbang saat sahur dan buka puasa menjadi kunci agar tubuh tetap sehat dan bugar sepanjang hari.

Pentingnya Sahur: Sumber Energi Seharian

Sahur bukan sekadar formalitas sebelum berpuasa. Ibarat “mengisi bahan bakar”, sahur menyediakan energi yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas hingga waktu berbuka. Melewatkan sahur dapat meningkatkan risiko dehidrasi, hipoglikemia (gula darah rendah), dan rasa lelah berlebihan.

Menu sahur yang ideal sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, oatmeal, atau kentang memberikan energi yang dilepaskan secara perlahan sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Protein dari telur, ayam tanpa kulit, ikan, tahu, dan tempe membantu menjaga massa otot serta memperlambat rasa lapar.

Jangan lupakan sayur dan buah yang kaya serat untuk membantu pencernaan dan mencegah sembelit. Serat juga memperlambat penyerapan gula sehingga kadar gula darah lebih stabil. Tambahkan lemak sehat dari alpukat, kacang-kacangan, atau sedikit minyak zaitun untuk mendukung kesehatan jantung.

Selain itu, cukupi kebutuhan cairan dengan minum 2–3 gelas air saat sahur. Hindari konsumsi minuman berkafein berlebihan seperti kopi atau teh kental karena dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan memicu dehidrasi.

Buka Puasa: Kembalikan Energi Secara Bertahap

Setelah sekitar 12–14 jam berpuasa, tubuh membutuhkan asupan energi dengan cara yang tepat. Dianjurkan untuk berbuka secara bertahap, dimulai dengan air putih dan makanan manis alami seperti kurma. Kurma mengandung gula alami (glukosa dan fruktosa) yang cepat diserap tubuh sehingga membantu memulihkan energi.

Setelah itu, beri jeda sebelum mengonsumsi makanan utama. Makan dalam porsi besar sekaligus dapat membuat lambung “kaget” dan menyebabkan rasa begah atau nyeri ulu hati. Pilih makanan utama yang seimbang: sumber karbohidrat (nasi, kentang, atau roti), protein (ikan, ayam, telur, atau kacang-kacangan), serta sayur dan buah.

Batasi konsumsi gorengan dan makanan tinggi lemak jenuh. Meskipun menggugah selera, makanan berlemak dan berminyak dapat memperlambat pengosongan lambung serta memicu gangguan pencernaan. Begitu pula dengan makanan atau minuman tinggi gula tambahan, yang dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis.

Atur Pola dan Porsi Makan

Selama Ramadan, pola makan berubah menjadi dua kali makan utama (sahur dan buka) serta camilan ringan setelah tarawih. Meski waktu makan terbatas, prinsip gizi seimbang tetap berlaku. Gunakan panduan sederhana: setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat, dan seperempat protein.

Perhatikan juga porsi makan. Keinginan “balas dendam” saat berbuka sering kali membuat seseorang makan berlebihan. Padahal, konsumsi berlebihan justru bisa menyebabkan kenaikan berat badan selama Ramadan. Makanlah secara perlahan dan berhenti sebelum terlalu kenyang.

Cukupi Cairan dengan Pola 2-4-2

Untuk mencegah dehidrasi, terapkan pola minum 2-4-2: dua gelas saat berbuka, empat gelas antara berbuka dan sahur, dan dua gelas saat sahur. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik. Hindari minuman bersoda atau terlalu manis karena dapat meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan manfaat gizi yang signifikan.

Perhatikan Kebutuhan Khusus

Bagi individu dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan lambung, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalankan puasa. Organisasi seperti World Health Organization menekankan pentingnya pola makan seimbang dan pembatasan gula, garam, serta lemak jenuh untuk menjaga kesehatan secara umum, termasuk saat menjalani perubahan pola makan seperti di bulan Ramadan.

Tetap Aktif dan Istirahat Cukup

Selain pola makan, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki setelah berbuka dapat membantu metabolisme tubuh tetap optimal. Jangan lupa menjaga kualitas tidur agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk pemulihan.

Kesimpulan

Puasa bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan. Dengan menerapkan pola makan seimbang saat sahur dan buka puasa, tubuh dapat tetap berenergi, fokus, dan terhindar dari gangguan kesehatan. Kuncinya adalah memilih makanan bergizi, mengatur porsi, mencukupi cairan, dan menjaga gaya hidup sehat secara menyeluruh. Dengan demikian, Ramadan tidak hanya menjadi momen peningkatan spiritual, tetapi juga kesempatan memperbaiki pola hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Apakah Anda Mempunyai Pertanyaan?

Untuk Informasi lebih lengkap, Anda dapat menghubungi customer service kami 0266-241461/241463 - Nomor Gateaway 0858 6179 3307

Jl.Jendral Sudirman No.3 kota Sukabumi Jawa Barat 43123
(0266)22663, 241461, 241463
Admin SAFA (Salam Assyifa) 0856-5986-4559
rsi_assyifa@yahoo.co.id - pemasaranassyifa@yahoo.com